Levofloxacin: Kegunaan, Aturan Pakai dan Efek Samping

Photo of author
Written By Irwin Andriyanto

Seorang yang mengaku blogger padahal isi blognya placement semua.

Infeksi bakteri ternyata dapat diobati menggunakan antibiotik. Antibiotik adalah zat kimian yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk merusak, menghambat, dan membunuh mikroorganisme lainnya yang terdapat di dalam tubuh.

Antibiotik dapat dibagi menjadi lima kelompok yaitu, mengganggu metabolisme sel mikroba, menghambat sintesis dinding mikroba, mengganggu permetabilitas membran sel mikroba, menghambat sintesis protein sel mikroba, dan menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba. Pada artikel ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai antibiotik golongan fluorokuinolon yang berfungsi untuk menghambat atau merusak asam nukleat sel mikroba yaitu, obat Levofloxacin.

Obat Levofloxacin digunakan untuk mengobati berbagai penyakit akibat infeksi bakteri. Perlu di ingat, penggunaan levofloxacin tidak boleh sembarangan, hanya dapat digunakan dengan resep dokter. Sehingga Anda harus melakukan konsultasi dokter gratis online agar tidak terjadi kesalahan.

Levofloxacin adalah salah satu golongan obat keras dalam kategori C. Obat jenis levofloxacin ini dapat terserap ke dalam ASI. Hindari mengonsumsi obat ini bila sedang menyusui.

Baca juga : Dermatitis Herpetiformis, Penyakit Kulit Seperti Luka Bakar

Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai obat levofloxacin.

Kegunaan Levofloxacin

Levofloxacin

Levofloxacin merupakan jenis obat yang sering digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri. Beberapa infeksi bakteri yang biasa disembuhkan dengan obat ini adalah peradangan dinding sinus (infeksi sinus), infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak, serta infeksi prostat.

Obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah penyakit antraks pada orang yang mungkin terpapar kuman di udara. Selain itu, obat ini pun digunakan untuk mengatasi penyakit pes (plague), yaitu penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis.

Antibiotik ini hanya efektif untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Obat ini justru tidak akan bekerja untuk mengatasi pilek, flu, atau infeksi virus lainnya.

Aturan Pakai Levofloxacin

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan bahwa obat jenis levofloxacin di Indonesia tersedia dalam berbagai bentuk, yaitu:

  • Tablet salut selaput berukuran 250 mg dan 500mg,
  • 500 mg kaplet salut selaput,
  • 100 ml dan 150 ml infus, dan
  • 5 ml obat tetes mata.

Pada masing-masing bentuk dan jenis obat levofloxacin, terdapat beberapa aturan pakai, yaitu:

  • Oral: Obat levofloxacin berbentuk oral ini dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan
  • Injeksi: Pemberian obat levofloxacin dalam bentuk injeksi biasanya dilakukan secara langsung oleh dokter atau tenaga medis di bawah pengawasan dokter
  • Obat tetes mata: Obat ini dapat diteteskan pada mata yang terinfeksi
  • Inhalasi: Dihirup dengan bantuan alat nebuliser

Dosis yang diberikan mungkin bervariasi berdasarkan kondisi individu. Selama masa pengobatan, dokter nantinya akan melihat respons pasien terhadap pengobatan atau dosis yang sudah diberikan sebelumnya. Jika diperlukan, maka dokter akan melakukan penyesuaian dosis.

Infeksi saluran kemih dengan komplikasi

  • Injeksi: untuk dewasa menggunakan injeksi 500 mg sekali sehari selama 7 sampai14 hari, pemberian obat ini dilakukan melalui infus selama 60 menit.
  • Oral: untuk dewasa menggunakan obat 500 mg sekali sehari selama 7 – 14 hari.

Prostatitis (radang prostat)

  • Injeksi: untuk dewasa 500 mg sekali sehari selama 28 hari, pemberian melalui infus yang dilakukan selama 60 menit
  • Oral: untuk dewasa menggunakan obat 500 mg sekali sehari dan dikonsumsi selama 28 hari.

Sistitis (radang kandung kemih)

  • Oral: untuk dewasa menggunakan obat 250 mg sekali sehari yang dikonsumsi selama 3 hari.

Pneumonia dan infeksi kulit

  • Injeksi: untuk dewasa menggunakan obat 500 mg sekali sehari atau dua kali sehari selama 7-14 hari, pemberian injeksi ini dilakukan melalui infus selama 60 menit.
  • Oral: untuk dewasa menggunakan obat 500 mg sekali sehari selama 7 sampai 14 hari.

Bronkitis

  • Oral: untuk dewasa menggunakan obat 500 mg sekali sehari selama 7 – 10 hari.

Pielonefritis (infeksi ginjal)

  • Injeksi: untuk dewasa, menggunakan injeksi 500 mg sekali sehari selama 7 sampai 10 hari, pemberian injeksi dilakukan melalui infus selama 60 menit.
  • Oral: untuk dewasa menggunakan obat 500 mg sekali sehari selama 7 sampai 10 hari.

Antraks inhalasi

Dewasa

  • Injeksi: Pemberian injeksi sebanayk 500 mg sekali sehari selama 8 minggu, obat ini diberikan melalui infus selama 60 menit.
  • Oral: Menggunakan obat levofloxacin 500 mg sekali sehari selama 8 minggu.

Anak-anak

  • Injeksi – anak 6 bulan (berat badan <50 kg): 8 mg/kg hingga maksimal 250 mg setiap 12 jam.
  • Injeksi – anak (berat badan 50> kg): 500 mg 24 jam. Dosis harus diberikan selama 60 hari.
  • Oral – anak 6 bulan (berat badan <50 kg): 8 mg/kg hingga maksimal 250 mg setiap 12 jam.
  • Oral – anak 6 bulan (berat badan 50> kg): 500 mg 24 jam. Dosis harus diberikan selama 60 hari.

Ulkus kornea (luka terbuka pada kornea)

Pada kasus ini, untuk pasien dewasa, biasanya akan diteteskan 1-2 levofloksasin tetes ke mata yang sakit setiap 30 menit atau 2 jam pada siang hari dan setiap 4-6 jam pada malam hari selama 1-3 hari.Hari-hari berikutnya, obat levofloxacin dapat diteteskan setiap 1 – 4 jam.

Konjungtivitis bakteri

Teteskan 1-2 tetes ke mata yang sakit setiap 2 jam sebanyak 8 kali sehari selama siang hari pada hari 1-2. Kemudian obat akan diteteskan sebanyak 4 kali sehari selama 3-5 hari. Dosis ini dapat dilakukan untuk orang dewasa.

Efek samping obat

Obat-obatan yang dikonsumsi pasti mempunyai efek samping, tak terkecuali obat jenis Levofloxacin. Obat ini dapat menimbulkan efek samping mulai dari yang ringan hingga berat. Efek samping yang seringkali terjadi setelah mengonsumsi obat jenis Levofloxacin adalah gangguan pada saluran cerna dan susunan saraf pusat. Selain itu, Anda juga dapat mengalami efek samping lainnya berupa diare, mual, pusing, insomnia.

Dalam kasus yang berat, efek samping yang mungkin saja timbul setelah mengonsumsi obat ini adalah, adanya reaksi psikotik, halusinasi, depresi dan kejang. Penderita berusia lanjut, khususnya dengan penyakit penyerta berupaarteriosklerosis atau epilepsi, memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami efek samping susunan saraf pusat.

Jika Anda mengalami gejala-gejala efek samping seperti yang telah disebutkan di atas, segera konsultasikan hal tersebut kepada dokter untuk segera mendapatkan penanganan.

Itulah penjelasan mengenai obat Levofloxacin. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya.

Tinggalkan komentar