Apa Itu Algoritma? Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Pernah merasa heran kenapa TikTok bisa menebak video yang Anda suka, atau kenapa Google bisa menampilkan jawaban relevan dalam hitungan detik? Di balik proses itu, ada algoritma yang bekerja.

Meski sering dikaitkan dengan teknologi canggih dan AI, algoritma sebenarnya punya konsep sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari, pola algoritma bisa ditemukan saat memasak mi instan, menarik uang di ATM, mengikuti resep, atau membaca petunjuk penggunaan barang.

Secara sederhana, algoritma adalah urutan instruksi logis, jelas, dan sistematis untuk menyelesaikan masalah. Dalam pemrograman, algoritma membantu komputer memproses input menjadi output melalui langkah-langkah yang terbatas, tidak ambigu, dan bisa dijalankan secara efektif.

Bayangkan algoritma seperti resep masakan. Jika urutannya jelas, hasilnya bisa sesuai harapan. Namun, jika ada langkah yang tertukar atau instruksinya membingungkan, hasil akhirnya bisa salah.

Pengertian Algoritma secara Umum dan Pemrograman

Secara umum, algoritma bisa dipahami sebagai panduan langkah demi langkah. Setiap langkah perlu disusun secara urut agar masalah bisa diselesaikan dengan hasil yang benar.

Dalam pemrograman, algoritma biasanya dibuat sebelum programmer mulai menulis kode. Fungsinya untuk merancang alur berpikir program, mulai dari data apa yang dimasukkan, proses apa yang dilakukan, sampai hasil apa yang harus ditampilkan.

Dilansir dari Dicoding, algoritma pemrograman membantu proses penyelesaian masalah dalam bentuk langkah-langkah logis sebelum diterjemahkan ke bahasa pemrograman. Artinya, coding tidak dimulai dari menulis perintah secara acak, tetapi dari menyusun logika terlebih dahulu.

Contohnya, saat membuat program untuk menentukan angka ganjil atau genap, komputer tidak bisa menebak sendiri. Programmer perlu memberi aturan yang jelas: masukkan angka, bagi angka tersebut dengan 2, lalu tampilkan hasil berdasarkan sisa pembagian.

Konsep seperti ini juga dipakai dalam teknologi yang sering kita gunakan. Mesin pencari memakai algoritma untuk mengurutkan hasil pencarian, media sosial menggunakannya untuk merekomendasikan konten, dan aplikasi belanja memakainya untuk menampilkan produk yang relevan.

Dikutip dari Stanford Graduate School of Business, algoritma dapat dipahami sebagai seperangkat aturan atau instruksi yang membantu sistem membuat keputusan atau menghasilkan keluaran tertentu. Karena itu, algoritma tidak hanya penting dalam pemrograman, tetapi juga dalam banyak sistem digital modern.

Istilah algoritma juga sering tertukar dengan logaritma karena bunyinya mirip. Padahal, keduanya berbeda. Algoritma membahas langkah penyelesaian masalah, sedangkan logaritma berkaitan dengan operasi matematika untuk mencari pangkat. Karena itu, penting memahami perbedaan algoritma dan logaritma agar tidak keliru saat belajar pemrograman atau matematika.

Perbedaan Singkat Algoritma dan Logaritma

IstilahBidangFungsi
AlgoritmaKomputasi, pemrograman, logikaMenyusun langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah
LogaritmaMatematikaMenentukan pangkat dari suatu bilangan

Dengan memahami perbedaan ini, pembaca bisa lebih mudah membedakan mana istilah yang berkaitan dengan pemecahan masalah dan mana yang termasuk konsep matematika murni.

Ciri-Ciri Algoritma yang Baik dan Efektif

Pengertian algoritma dan contoh penerapannya dalam logika pemrograman
Pengertian algoritma dan contoh penerapannya dalam logika pemrograman

Setelah memahami pengertiannya, hal berikutnya yang perlu diketahui adalah ciri-ciri algoritma yang baik. Algoritma tidak cukup hanya berisi langkah-langkah. Urutannya juga harus jelas, masuk akal, dan benar-benar menghasilkan jawaban.

Menurut Donald E. Knuth dalam The Art of Computer Programming, Volume 1: Fundamental Algorithms, algoritma perlu memiliki beberapa sifat utama, yaitu terbatas, jelas, memiliki masukan, menghasilkan keluaran, dan bisa dikerjakan secara efektif.

Agar lebih mudah dipahami, berikut lima ciri utama algoritma yang baik.

1. Keterbatasan atau Finiteness

Algoritma harus berhenti setelah menjalankan sejumlah langkah tertentu. Proses tidak boleh berjalan terus-menerus tanpa akhir.

Jika algoritma tidak memiliki titik berhenti, program bisa mengalami infinite loop. Akibatnya, sistem tidak menghasilkan jawaban yang benar.

2. Kepastian atau Definiteness

Setiap langkah harus jelas dan tidak membingungkan. Instruksi seperti “ulangi beberapa kali” kurang tepat jika jumlah atau kondisinya tidak dijelaskan.

Instruksi yang baik harus bisa dipahami dengan cara yang sama oleh manusia maupun sistem yang menjalankannya.

3. Input atau Masukan

Algoritma dapat memiliki nol atau lebih input. Input adalah data awal yang akan diproses.

Misalnya, dalam algoritma menghitung luas persegi panjang, input-nya adalah panjang dan lebar. Tanpa data tersebut, sistem tidak bisa menghitung hasil yang tepat.

4. Output atau Keluaran

Setiap algoritma harus menghasilkan output. Output adalah hasil akhir dari proses yang dilakukan.

Jika input-nya panjang dan lebar, output-nya bisa berupa luas. Jika input-nya nilai siswa, output-nya bisa berupa keterangan “Lulus” atau “Tidak Lulus”.

5. Efektivitas atau Effectiveness

Langkah dalam algoritma harus sederhana dan dapat dikerjakan dalam waktu yang masuk akal. Algoritma yang terlalu rumit bisa membuat proses berjalan lambat dan sulit diperbaiki.

Jadi, algoritma yang baik bukan hanya urutan langkah. Ia juga harus jelas, bisa diselesaikan, dan menghasilkan jawaban yang sesuai.

Cara Menulis dan Menyusun Algoritma

Sebelum masuk ke coding, programmer biasanya menyusun algoritma terlebih dahulu. Tujuannya agar alur logika terlihat jelas sebelum diterjemahkan ke bahasa pemrograman.

Ada tiga cara umum untuk menulis algoritma, yaitu bahasa alami, pseudocode, dan flowchart.

1. Bahasa Alami

Bahasa alami adalah cara menulis algoritma memakai bahasa sehari-hari, seperti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Contohnya:

  1. Masukkan angka.
  2. Periksa apakah angka habis dibagi 2.
  3. Jika habis dibagi 2, tampilkan “angka genap”.
  4. Jika tidak, tampilkan “angka ganjil”.
  5. Selesai.

Cara ini mudah dipahami pemula. Namun, bahasa alami bisa kurang efektif jika instruksinya terlalu umum atau menimbulkan makna ganda.

2. Pseudocode

Pseudocode adalah kode tiruan yang menyerupai bahasa pemrograman, tetapi tidak terikat aturan sintaksis tertentu.

Contohnya:

Mulai
Input angka
Jika angka % 2 == 0
    Tampilkan "Angka genap"
Selain itu
    Tampilkan "Angka ganjil"
Selesai

Pseudocode membantu pemula memahami logika program tanpa harus langsung memikirkan aturan bahasa pemrograman seperti Python, JavaScript, atau C++.

3. Flowchart

Flowchart adalah diagram alir yang menunjukkan proses algoritma dari awal sampai akhir. Biasanya, flowchart memakai simbol seperti oval, kotak, belah ketupat, dan panah.

Oval digunakan untuk awal atau akhir proses. Kotak dipakai untuk proses. Belah ketupat digunakan untuk keputusan, misalnya kondisi “ya” atau “tidak”.

Flowchart berguna karena membuat alur program lebih mudah dilihat secara visual. Dengan diagram ini, programmer bisa menemukan kesalahan alur sebelum masuk ke tahap coding.

Contoh Algoritma Sederhana dalam Pemrograman

Agar lebih dekat dengan dunia pemrograman, mari gunakan contoh sederhana. Misalnya, kita ingin membuat program untuk mengecek apakah seorang siswa lulus ujian atau tidak.

Aturannya: jika nilai siswa 75 atau lebih, tampilkan “Lulus”. Jika kurang dari 75, tampilkan “Tidak Lulus”.

Langkah algoritmanya:

  1. Mulai.
  2. Masukkan nilai siswa.
  3. Periksa apakah nilai lebih besar atau sama dengan 75.
  4. Jika ya, tampilkan “Lulus”.
  5. Jika tidak, tampilkan “Tidak Lulus”.
  6. Selesai.

Jika ditulis dalam pseudocode, bentuknya seperti ini:

Mulai
Input nilai
Jika nilai >= 75
    Tampilkan "Lulus"
Selain itu
    Tampilkan "Tidak Lulus"
Selesai

Contoh ini menunjukkan bahwa algoritma adalah rancangan logika. Setelah alurnya jelas, programmer bisa menuliskannya ke dalam bahasa pemrograman tertentu.

Contoh Algoritma dalam Kehidupan Sehari-hari

Algoritma tidak hanya ada di komputer. Banyak aktivitas harian juga mengikuti pola instruksi yang berurutan.

Contoh algoritma memasak mi instan rebus:

  1. Siapkan panci, air, mi instan, bumbu, mangkuk, dan kompor.
  2. Tuang air ke dalam panci.
  3. Nyalakan kompor.
  4. Tunggu air sampai mendidih.
  5. Masukkan mi ke dalam air mendidih.
  6. Tunggu mi matang.
  7. Masukkan bumbu ke dalam mangkuk.
  8. Tuang mi dan kuah ke mangkuk.
  9. Aduk sampai rata.
  10. Mi instan siap dimakan.

Urutan tersebut bisa disebut algoritma karena memiliki langkah yang jelas, logis, dan menghasilkan output tertentu.

Contoh lain adalah menarik uang tunai di ATM. Pengguna perlu memasukkan kartu, memilih bahasa, memasukkan PIN, memilih menu tarik tunai, menentukan nominal, lalu mengambil uang. Jika langkahnya tidak urut, proses bisa gagal.

Kesimpulan

Algoritma adalah fondasi penting dalam sistem komputasi dan teknologi modern. Tanpa susunan langkah yang logis, program komputer tidak akan bisa menjalankan perintah dengan benar.

Memahami apa itu algoritma juga membantu melatih pola pikir yang lebih terstruktur. Kita belajar memecah masalah menjadi langkah kecil, menentukan input, menyusun proses, lalu menghasilkan output yang sesuai.

Bagi pelajar, mahasiswa IT, atau siapa pun yang ingin belajar pemrograman, algoritma adalah dasar yang perlu dipahami sejak awal. Jika logikanya sudah jelas, proses belajar coding akan terasa jauh lebih mudah.

FAQ tentang Algoritma

Apakah algoritma hanya digunakan dalam pemrograman komputer?

Tidak. Secara konsep, algoritma bisa digunakan di banyak bidang, termasuk matematika, logika, instruksi manual, resep masakan, dan panduan merakit barang.

Apakah algoritma sama dengan coding?

Tidak. Algoritma adalah rancangan langkah atau logika untuk menyelesaikan masalah. Coding adalah proses menerjemahkan logika tersebut ke dalam bahasa pemrograman.

Dengan kata lain, algoritma adalah rencananya, sedangkan coding adalah cara menuliskannya agar bisa dijalankan komputer.

Apa yang terjadi jika algoritma tidak logis?

Jika instruksinya rancu, sistem komputer bisa mengalami error, menghasilkan output yang salah, atau terjebak dalam infinite loop.

Karena itu, setiap langkah dalam algoritma harus jelas, logis, dan memiliki kondisi berhenti.

Mengapa flowchart sering digunakan sebelum coding?

Flowchart membantu pengembang melihat gambaran besar logika program secara visual. Dengan begitu, kesalahan alur bisa ditemukan lebih awal sebelum masuk ke tahap penulisan kode.

Referensi

Dicoding. “Algoritma Pemrograman: Pengertian, Fungsi, dan Jenis.” Dicoding Blog, https://www.dicoding.com/blog/algoritma-pemrograman-pengertian-fungsi-dan-jenis/

Knuth, Donald E. The Art of Computer Programming, Volume 1: Fundamental Algorithms. Addison-Wesley.

Mas Irwin. “Algoritma dan Logaritma.” Masirwin.com, https://masirwin.com/algoritma-dan-logaritma/

Stanford Graduate School of Business. “Explainer: What Is an Algorithm.” Stanford Graduate School of Business, https://www.gsb.stanford.edu/insights/explainer-what-algorithm

Telkom University. “Apa Itu Algoritma? Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari.” Telkom University, https://telkomuniversity.ac.id/apa-itu-algoritma-pengertian-ciri-ciri-jenis-dan-contohnya-dalam-kehidupan-sehari-hari/

Share it:

Irwin Andriyanto

Irwin Andriyanto adalah SEO Consultant dengan latar belakang Teknik Informatika dan Manajemen Marketing. Melalui masirwin.com, ia membahas SEO, blogging, digital marketing, manajemen marketing, dan teknologi praktis untuk membantu website tumbuh lebih terarah dan berkelanjutan.

Postingan Terkait

Tinggalkan komentar